Persiapan(ku) ke Jerman: Mengurus Visa

June 28, 2023

© VIN JD from Pixabay


Aku mendapat kesempatan mengikuti seminar di Jerman dengan tema kebudayaan Jerman. Sebelum berangkat ke Jerman, semua pemegang paspor ijo gambar burung garuda harus mengurus visa dulu, termasuk diriku ini. Visa yang aku perlukan adalah visa bisnis. Aku mengurus Visa Schengen Jerman di VFS Global. Untuk membuat janji temu, aku harus membuat akun dulu di website VFS. Bisa ditebak, seperti saat mengurus ganti paspor, disini juga ada drama gara-gara aku salah memasukkkan password padahal belum ada 5 menit sejak verifikasi e-mail.

Setelah berhasil mengakses akun baruku, aku langsung mengecek persyaratan dokumen untuk visa yang aku butuhkan. Meskipun belum punya akun, persyaratan dokumen bisa dicek langsung di websitenya VFS. Aku menyiapkan dokumen yang diperlukan paralel juga dengan aku menunggu pasporku jadi. Nyicil supaya nggak berat dan menghindari drama yang nggak seharusnya terjadi.

Dokumen sudah lengkap. Selanjutnya membuat janji temu. Slot untuk bulan Juni sudah dibuka di akhir bulan Mei. Aku langsung memilih tanggal dan jam yang aman. Setelah itu aku membayar sesuai nominal yang tertera di website. Bayarnya online. Aku pakai BCA mobile. Drama terjadi lagi. Pembayaranku nggak berhasil karena debit online di BCA mobile-ku belum aktif. Aku harus mengulang lagi membuat janji temu dan harus menunggu sekitar 5 jam dulu baru bisa membuat janji baru.

Drama pembayaran selesai. Aku langsung mencetak bukti booking janji temu untuk dibawa saat datang ke kantor VFS. Di hari H aku datang 15 menit lebih awal. Petugas di pintu masuk mengecek janji temu yang aku buat. Aku disuruh menunggu dulu sampai tepat jam 1 siang dan dikasih form pengiriman paspor. Karena waktu itu aku nggak lihat ada ruang tunggu di luar kantor VFS, jadi aku menunggu di toilet sambil mengisi form pengiriman paspor dengan nama, nomor HP, dan alamat pengiriman. Jam 1 siang aku masuk ke ruangan petugas yang mengecek kelengkapan dokumen. Aku menunggu dipanggil sesuai nomor antrian. Di ruangan tersebut HP harus di-silent dan nggak boleh dipakai. Dilarang mengambil gambar apapun di ruangan.

Setelah dicek dan dokumen dinyatakan lengkap, aku harus membayar biaya pengiriman dokumen. Bayarnya tunai. Untunglah aku bawa tunai. Visaku gratis karena aku dapat undangan dari institusi pemerintah Jerman. Di sebelahku ada yang mengurus visa Schengen Belanda. Dia membayar biaya pembuatan visa dan biaya pengiriman dokumen secara tunai.

Setelah bayar, aku menunggu lagi sebentar untuk pengambilan sidik jari di Ruang Biometrik. Tempat menunggunya tepat di depan tempat petugas pengecekan dokumen. Ruang Biometrik ada di sebelah tempat pengecekan dokumen. Disekat tembok dan pintu geser aja.

Aku dipanggil masuk ke Ruang Biometrik dan dijelaskan prosedurnya. Saat pengambilan sidik jari, petugas memastikan di jariku nggak ada luka. Setelah selesai pengambilan sidik jari, aku bisa meninggalkan kantor VFS. Pelayanannya bagus dan petugasnya ramah.

Sat set sat set. Tiga hari setelah tanggal pengajuan, visaku jadi. Pasporku yang sudah ada tempelan visa sampai di kantor empat hari setelah visa diterbitkan.

Read More

Persiapan(ku) ke Jerman: Ganti Paspor

June 26, 2023

© Blake Guidry on Unsplash

Tahun ini aku mendapat kesempatan ke Jerman untuk mengikuti seminar dengan tema kebudayaan Jerman. Saat aku membaca e-mail dari bos di institut pusat di awal menuju pertengahan Mei, aku harusnya excited bukannya overthinking. Kenyataannya aku malah overthinking duluan karena pasporku sudah habis masa berlakunya sejak tiga tahun lalu dan jarak menerima e-mail tadi dengan jadwal seminarnya sudah termasuk mepet.

Aku mengurus paspor tahun 2015 di kantor imigrasi di kota asalku. Itu satu-satunya tempat yang aku tau. Sekarang aku anak rantau dan belum kenal kota domisiliku saat ini dengan baik. Pagi itu setelah membaca e-mail, aku langsung buka aplikasi yang dulu aku install untuk jaga-jaga kalau aku mau ganti paspor suatu hari nanti😊

Dan... yang terjadi adalah app-nya sudah nggak berfungsi lagi. MAMPUS.

Untuk mengurus paspor dan semacamnya sekarang sudah pakai aplikasi M-Paspor. Itu info yang aku dapat dari seorang teman sesaat setelah kepanikanku tadi. Pasang M-Paspor di HP juga drama lagi. Skip aja dramanya karena nggak penting.

Setelah aku punya akun di M-Paspor, aku bikin janji untuk mengurus ganti paspor. Pertama aku harus mengisi data dulu. Lumayan banyak yang harus diisi. Disini juga ada drama lagi karena aku nggak nyangka harus upload foto KK.

© Kaka

Selain itu aku juga harus upload foto halaman 2 paspor lama.

Mampus kan. Aku nggak bawa dua-duanya.

Aku bersyukur banget di tengah drama ini ada keluargaku yang siap membantu di saat-saat genting. Singkat cerita, orang rumah mengirimkan foto KK dan halaman 2 paspor lamaku.

Lanjut pilih tempat. Aku pilih amannya aja: mengurus lagi di kantor imigrasi satu-satunya di kota asalku. Sayangnya semua kuota sudah penuh di bulan Mei. Baru ada lagi di bulan Juni.

Ya mampus dong wak kalau gue baru ngurus bulan Juni.

Mau nggak mau aku harus pilih kantor imigrasi di kota tempat aku merantau sekarang. Aku bertanya ke temanku lagi, dimana dan apa saja yang perlu disiapkan untuk mengurus paspor di kota yang bukan kota asal pemohon. Aku kira harus ada surat keterangan domisili, ternyata nggak. Persyaratannya sesuai dengan yang tertera di aplikasi, nggak ribet. Yang ribet cuma gue aja dari tadi.

Tempat sudah ditentukan, kemudian pilih tanggal dan jam. Banyak banget kuota yang masih tersedia. Aku memilih tanggal 20-an Mei.

Tahap selanjutnya: bayar pembuatan paspor.  Aku bayar di ATM BCA dan langsung bisa. Sebelumnya aku dan seorang kolega mencoba bayar di ATM bank lain karena kami mengurusnya bersama. Sayangnya nggak berhasil entah kenapa aku lupa. Untuk pembayaran ini ada tenggat waktunya, kalau nggak salah 2 atau 3 jam. Kalau lewat dari waktu tersebut, permohonan otomatis kadaluarsa dan harus pilih ulang tanggal dan jamnya. Bisa di tanggal dan jam yang sama selama kuota masih tersedia.

Janji sudah dibuat, tinggal meluncur ke kantor imigrasi. Aku bikin janji jam 9 pagi dan sudah sampai disana jam setengah 9. Aku menunggu kolega sebentar. Eh ternyata kok lama, yaudah aku tinggal masuk.

Aku menunggu sambil mengisi formulir pengajuan ganti paspor. Harus tanda tangan di atas materai 10.000. Materainya aku beli di koperasi(?) di belakang kantin dekat parkiran motor dan mobil. Sekalian aku beli materai untuk kolegaku juga. Bayarnya tunai. Setelah itu, aku mengantri di loket penyerahan dokumen. Petugas mengecek dokumen dan memberi nomor antrian kalau dokumennya sudah sesuai persyaratan. Antrian sesuai jam sepertinya nggak berlaku ya ges ya. Sistemnya lebih ke siapa yang datang, isi formulir, dan menyerahkan dokumen lebih awal, dia yang dapat nomor antrian duluan. Buat gue sih ini bukan masalah ya wak, YANG PENTING GUE SEGERA DAPAT PASPOR BARU.

Nomor antrianku dipanggil. Tahap selanjutnya seperti yang sudah-sudah adalah wawancara. Ini sih yang bikin aku menunda untuk ganti paspor 3 tahun lalu. Ditanya kerja dimana dan keperluannya apa. Saat itu statusku di institut tempat aku kerja sekarang masih anak magang. Kan repot. Sekarang aku sudah resmi menjadi karyawan disana dan punya alasan jelas untuk pergi ke Jerman. Sip.

Wawancara sudah, ambil sidik jari dan foto juga sudah. Tinggal menunggu paspor jadi selama 4 hari kerja. Aku kembali ke kantor dengan membawa lembar bukti bayar yang ada barcode untuk dipakai mengambil paspor nantinya.

Beberapa hari berlalu...

PASPORKU AKHIRNYA JADI. ALHAMDULILLAH.

Lanjut ke tahap selanjutnya: mengurus Visa Schengen Jerman.

Read More

Kembali ke Zona Nyaman di Saat yang Tepat :)

June 25, 2023

Setelah lebih dari dua tahun terguncang secara mental serta tenaga dan pikiran terkuras, akhirnya aku bisa kembali lagi ke zona nyamanku: nonton pertandingan badminton di depan layar laptop. Banyak banget nama pemain yang asing buatku karena kelamaan nggak nyimak. Tapi yaudah sih, lama-lama juga familiar sendiri.

Sebelum vakum yang nggak direncanakan itu, aku sempat nonton pertandingan-pertandingan ganda putri dan ganda campuran. Favoritku di ganda putri waktu itu Yuki Fukushima/Sayaka Hirota dan Kim So Young/Kong Hee Yong, di ganda campuran random aja sih sebenernya setelah Owi/Butet berpisah karena Liliyana Natsir gantung raket. Aku hampir nggak nyimak sama sekali tunggal putra atau pun ganda putra sejak Taufik Hidayat meninggalkan diriku pensiun. Sempat melirik Takeshi Kamura di ganda putra, tapi cuma seumur jagung hehe. Setelahnya ada satu pemain yang lucu. Tidak lain dan tidak bukan ialah Loh Kean Yew di tunggal putra. Meskipun full senyum dan uwu, Keanu juga sayangnya nggak bisa menggantikan posisi Taufik Hidayat di hati akyu. Monmaap ini bahasanya cringe karena hamba memang cringe.

Agak lama setelah itu muncul lagi nama baru: Feng Yan Zhe, pasangan Huang Dong Ping di ganda campuran yang menggantikan Wang Yilyu. Berondong kelahiran 2001 ini cakep banget sih emang. Yan Zhe sering tertangkap kamera diomeli Dong Ping kalau dia melakukan kesalahan di lapangan. Kasian tapi lucu wkwkwkwkwk. Yang sabar ya Yance, itu demi kebaikanmu juga. *sok akrab*

Selain Yan Zhe masih ada satu lagi. Si kalem Kim Won Ho. Awal bulan ini aku sempat nonton Wonho (yang berpasangan dengan Jeong Na Eun) di Final Thailand Open. Disana mereka berhasil menjadi juara. Saat di podium Wonho yang vibe-nya soft boy terlihat semakin soft(?) dan sangat memancarkan aura anak baik-baik yang harus banget dijadikan kesayangan sejuta umat.

©  BWF TV

Di lapangan Wonho sering maju di depan net dan Naeun berada di belakang. Aku pun bertanya-tanya kenapa Wonho sering banget berada di depan net. Ya memang sih pemain laki-laki di ganda campuran bisa maju dan main di depan net, tapi nggak sesering Wonho. Ternyata Wonho percaya dengan kemampuan Naeun meng-cover lapangan belakang. Bhaiq. Singkat saja pembahasan mengenai gaya permainan pasangan gemas ini karena sebenarnya maksud dan tujuan dari postingan ini adalah saya ingin menyampaikan bahwa saya sudah menjadi budak cinta Kim Won Ho. Semoga perbucinan ini tetap berada di tahap yang sehat dan wajar. Sekian. Salam bucin.

Read More