Perkara Batu (Part 3)

December 17, 2023

Saat itu musim panas di Dresden, Jerman. Lily memutuskan akan mengunjungi Albertinum, sebuah museum dan galeri seni di Kota Tua Dresden.

Lily masuk ke sebuah ruangan yang sangat luas di salah satu bagian Albertinum. Di tengah ruangan itu ada sofa-sofa besar berbentuk kotak dan berwarna abu-abu. Di seberangnya ada loket tiket dan sebuah toko yang menjual buku-buku tentang seni yang dipamerkan di Albertinum dan lukisan yang dicetak menjadi kartu pos.

Lily berjalan menuju loket. Petugas penjaga loket menyapanya dengan ramah.

"Selamat siang,"

"Selamat siang. Satu tiket, ya," kata Lily.

"Untuk pelajar?"

"Bukan, untuk umum," jawab Lily sambil tersenyum miris.

Harusnya gue bawa kartu mahasiswa gak sih biar dapat tiket harga pelajar? Lily berkata pada dirinya sendiri di dalam hati meskipun dia tau kalau kartu mahasiswa yang dia punya jelas-jelas tidak berlaku di Jerman dan usianya sama dengan usia keponakannya yang pertama yang sekarang sudah duduk di bangku sekolah menengah pertama.

"Tas bisa dititipkan di sebelah sana, ya," kata petugas itu sambil memberikan arahan ke Lily.

Lily berjalan pelan-pelan memasuki galeri seni. Karena itu pertama kalinya dia masuk ke galeri seni, dia sangat berhati-hati melangkah dan segera bertanya ketika dia melihat petugas yang sedang berjaga di ruangan pertama yang dia datangi.

Lily memulai petualangannya di galeri patung. Disana dia melihat banyak patung seperti patung torso, patung full body, patung abstrak, dan patung realis. Yang sangat menarik perhatian Lily disana adalah patung torso realis dengan detail yang luar biasa, seperti garis rambut dan lekukan pakaian yang diukir sangat rapi.

Lily menaiki tangga menuju galeri lukisan. Matanya seketika berbinar melihat lukisan-lukisan yang tertempel di dinding galeri. Galeri lukisan mengambil lebih banyak ruang daripada galeri patung. Lily tidak mau melewatkan satu ruangan pun. Dia memastikan telah mengunjungi semua ruangan dengan mencocokkannya dengan denah di selebaran yang dia bawa saat membeli tiket.

Lily merasa energinya terisi penuh setelah menikmati koleksi lukisan di Albertinum. Sebelum dia meninggalkan galeri itu, dia melihat-lihat kartu pos dan memutuskan membeli satu kartu pos bergambar lukisan karya Caspar David Friedrich yang berjudul Ausblick ins Elbtal (View of the Elbe Valley). Itu adalah lukisan yang berhasil mengambil hati Lily siang itu.

Lily belum beranjak pergi. Dia masih ingin melihat kartu pos yang lain. Sebuah kartu pos menarik perhatiannya. Tanpa pikir panjang dia segera mengambil kartu pos itu dan pergi menuju kasir. Di kartu pos itu tercetak lukisan yang dibuat oleh seniman bernama Sabine Moritz dengan judul Kleine Lilie (Little Lily).

---

Saat itu musim gugur di Tokyo, Jepang. Eunseok bersama Shotaro, Sungchan, Wonbin dan Sohee akan pergi ke Shimokitazawa, distrik bohemian di Tokyo. Agenda mereka siang itu adalah mengunjungi toko-toko  vintage dan menyusuri jalan sempit di Shimokitazawa.

Eunseok dan member RIIZE lainnya membuat vlog selama mereka berjalan-jalan. Eunseok sering berbicara menggunakan bahasa Jepang dan kadang dicampur dengan bahasa Korea. Beberapa kali dia juga berkomentar tentang apa yang dia lihat atau menanggapi Shotaro dengan menggunakan frase dalam bahasa Inggris.

Eunseok melihat sebuah rumah dan imajinasinya terbang ke seri manga Crayon Shin-Chan. Rumah yang dia lihat itu menurutnya seperti rumah keluarga Nohara yang kemudian ambruk dan akhirnya mereka harus pindah ke apartemen. Saat melihat sebuah sepeda yang terparkir di tepi jalan, dia langsung berkomentar itu adalah sepeda Misae, ibu Shin-Chan.

Eunseok bersama Shotaro, Sungchan, Wonbin dan Sohee kemudian masuk ke sebuah toko ritel untuk membeli snack. Di saat Sungchan sedang memilih snack, Shotaro dan Sohee sedang berdiskusi memilih es krim mana yang akan mereka beli, Eunseok menghampiri dengan tangan memegang bungkus makanan yang sudah dibuka dan salah satu isinya sudah ada di mulutnya. Ternyata dia sedang makan snack tangerine yang rasanya seperti tangerine. Itu yang dia katakan tentang rasa dari snack yang sedang dia makan.

Eunseok dan empat member lainnya melanjutkan petualangan mereka di Shimokitazawa. Mereka lalu sampai di sebuah jalan sempit dengan pemandangan yang estetik. Disana mereka berhenti untuk membuat video Reels dan mengambil foto masing-masing member dengan latar jalan sempit dan langit senja.

Eunseok saat itu memakai celana jeans biru, hoodie abu-abu dan jaket varsity hitam putih. Di bagian belakang jaketnya ada gambar bunga lili.

---

© RIIZE

© RIIZE

Little Lily, 1994
© Sabine Moritz

🌷

Post a Comment