Di Jerman: Seminar Dua Minggu di Berlin

December 29, 2023

Tujuan (((resmi)))ku ke Berlin adalah untuk menghadiri seminar yang berfokus pada budaya. Lebih spesifiknya budaya di Berlin. Seminarnya diadakan selama dua minggu, dari Senin sampai Jumat.

Selain kegiatan interaktif di kelas, ada juga kegiatan lain yang menarik.

1. Menjelajah Kreuzberg

Peserta seminar dibagi menjadi beberapa grup. Aku dan grupku mendapat bagian menjelajah Kreuzberg, salah satu distrik di kota Berlin. Kami mendapat pamflet yang di dalamnya terdapat petunjuk-petunjuk dan soal cerita yang harus diselesaikan. Sebenarnya kami diberi waktu dua jam aja dan nggak harus semua soal dikerjakan, tapi grup kami terlalu ambis. Jadi kami mengerjakan semua soal dan menjelajah Kreuzberg di bawah terik matahari sampai kaki gempor. Besoknya kami harus mempresentasikan hasil penjelajahan tersebut.



2. Menyaksikan Impro-Theater Schmeterlings

Baru pertama ini menyaksikan pertunjukan teater yang pemainnya harus memerankan adegan secara spontan, tanpa skrip, dan berdasarkan permintaan penonton. Pemain teaternya ada tiga orang dan kocak semua. Musik pengiringnya dari keyboard yang dimainkan oleh satu orang anggota teater juga.


3. Mengenal mitos-mitos dari Berlin

Kami bekerja dalam tim. Setiap grup harus berkeliling di lorong-lorong institut dan membaca teks tentang mitos-mitos yang berasal dari Berlin yang tertempel di dinding. Dengan bantuan lembar kerja kami membuat rangkuman dari mitos-mitos tersebut. Di akhir kegiatan kami mendapat kejutan: setiap peserta diberi sebuah buku yang berisi semua mitos yang tertempel di dinding institut plus mitos-mitos yang lain😃


4. Tur dari Gerbang Brandenburg sampai alun-alun Gendarmenmarkt

Tur ini dipimpin oleh Mattias Rau. Pak Rau menceritakan sejarah di setiap pemberhentian, seperti saat di Gerbang Brandenburg Pak Rau menceritakan sejarah Jerman Barat dan Jerman Timur. Selain karena cinta (baca: menjadi budak cinta Song Eunseok), otak hamba juga bisa off kalau kena sejarah, apalagi ini sejarahnya diceritakan dalam bahasa Jerman. Hamba berusaha semaksimal yang otak hamba bisa untuk memahami penjelasan dari Pak Rau. Yang menarik dari materi yang disampaikan Pak Rau adalah peta otentik yang Pak Rau dapat saat Berlin masih dipisahkan Tembok Berlin. Pak Rau menyimpan memento tentang sejarah Jerman yang berkaitan dengan Berlin dengan rapi. Sebuah inspirasi untuk mengabadikan sejarah pribadi.



5. Mengunjungi stasiun TV ZDF

Pukul 7:35 waktu Jerman semua peserta harus sudah berada di depan gedung ZDF. Aku yang sudah berusaha keras bangun lebih pagi ini tetap saja terlambat akibat terlalu pede dengan kelancaran perjalanan menggunakan kereta di Berlin. Di tengah perjalanan, kereta yang aku tumpangi harus berhenti karena ada kejadian darurat: seorang penumpang yang akan berangkat kerja pingsan dan jatuh dari kursinya. Setelah sadar dari shock sesaat, aku segera mengambil jalur kereta lain yang mana itu sangat emboh karena aku hanya bermodal ngecek di Maps. Buntutnya adalah aku keluar dari stasiun yang lain, padahal sehari sebelumnya aku sudah menghafalkan jalan ke studio ZDF dari stasiun Unter den Linden. Aku mengikuti jalan yang ada di Maps dan sampai di pintu ZDF. Kok sepi. Ternyata itu adalah pintu masuk kru :”) Aku harus putar balik dengan berlari memutari jajaran gedung menuju pintu depan studio ZDF. Untungnya aku sampai tepat sebelum semua peserta dicek paspornya dan dicocokkan identitasnya. Ada banyak orang dari luar seminar juga yang mengikuti kegiatan ini. Kami diajak menjadi penonton di acara live ZDF-Morgenmagazin dan setelah itu kami dipandu mengikuti tur studio. Kunjungan ke studio ZDF ini adalah pengantar untuk masuk ke diskusi di kelas :”)


6. Berjalan-jalan ke Tembok Berlin

Sebelum memulai tur, peserta seminar dibagi menjadi grup kecil yang terdiri dari dua orang dan harus membuat ringkasan singkat dari tempat bersejarah di Tembok Berlin. Aku mendapat teks tentang Tunnel 57 atau Terowongan 57. Terowongan ini digali dari toko roti yang sudah tidak dipakai lagi di Berlin Barat menuju ke wilayah Berlin Timur dan digunakan sebagai rute pelarian untuk warga Jerman Timur. Operasi pelarian ke wilayah Jerman Barat banyak menelan korban jiwa. Mereka ditembak mati oleh petugas yang berjaga di perbatasan. Ada juga korban yang masih anak-anak. Annette, salah satu pemateri seminar kami, menjelaskan kalau anak-anak kecil itu bukan ditembak mati, melainkan karena mereka terjatuh ke sungai di perbatasan saat bermain dan akhirnya tenggelam karena tidak ada yang berani menolong. Jika menolong, berarti dianggap melewati perbatasan dan ditembak mati di tempat.



7. Tur perahu di Sungai Spree

Tur ini murni untuk healing😊 Turnya berlangsung selama satu jam. Tur ini sangat menyenangkan menurutku, karena aku bisa menikmati pemandangan dengan tenang di atas perahu. Selama tur aku melihat banyak bangunan-bangunan penting di Berlin. Yang menarik perhatianku karena sangat estetik adalah Cube Berlin. Bentuk bangunannya kubus. Iya. Namanya juga cube. Wujud Cube Berlin bisa dilihat di foto di bawah ini agar supaya lebih jelas. Sangat cantik seperti sepatu kaca Cinderella.

🌷

Post a Comment