Selama berjalan di Grunewald, aku dan Walter membahas banyak hal. Sambil berjalan aku juga melihat sekeliling. Pohon-pohonnya tinggi dan daunnya hijau. Saat itu mendung, suasana di Grunewald membawa imajinasiku ke film-film horor barat. Aku mengatakan apa yang ada di kepalaku ke Walter. Walter tiba-tiba memperingatkan aku untuk tidak melewati taman atau hutan di malam hari. Aku sudah takut karena imajinasi horor yang ada di kepalaku, tapi ternyata alasannya adalah ada orang mabuk di taman atau hutan di malam hari dan itu berbahaya. Iya juga sih.
Di Grunewald banyak sekali anjing yang berlarian dan bermain dengan sesamanya. Di Grunewald anjing boleh dilepaskan talinya dan bebas berlarian. Aku dan Walter berpapasan dengan sekelompok anjing besar yang sedang kejar-kejaran. Di antara mereka ada yang sudah menggeram. Walter mengajakku untuk segera berlalu. Karena tidak tahu sifat anjing, aku ikut saja apa kata Walter.
Aku bertanya kepada Walter kenapa dia dan Maria tidak memelihara anjing atau kucing. Kata Walter, hewan seharusnya bebas di alam dan tidak dikurung di rumah. Di Jerman hewan memang tidak boleh berkeliaran sembarangan. Ada banyak aturan yang harus dipatuhi oleh pemilik hewan. Kucing misalnya, harus tetap berada di dalam rumah. Selama dua minggu di Berlin, aku hanya melihat satu kucing yang sedang duduk di jendela yang dipasang jaring.
Tujuan wandern kami setelah Grunewald adalah Domäne Dahlem, sebuah perkebunan/peternakan dengan suasana yang tenang dan vibenya sangat slow living di tengah hiruk-pikuk kota Berlin. Pintu masuknya seperti tersembunyi di jalan setapak bersemak tinggi. Pengunjung bisa membukanya sendiri karena ini ruang publik.
Setelah melewati gerbang, kami disambut hamparan padang rumput dengan bunga-bunga liar berwarna biru. Aku sangat terpesona dengan pemandangan itu karena sudah lama tidak berada di alam bebas. Ingin rasanya berlarian seperti monyet lepas di padang rumput berbunga.
Di hari Sabtu itu aku melihat beberapa keluarga dengan anak yang masih balita atau usia TK berkunjung ke Domäne Dahlem. Kata Walter, anak-anak bisa belajar tentang hewan ternak di Domäne Dahlem.
Domäne Dahlem tidak hanya memiliki padang rumput, tapi juga pasar kecil yang menjual produk-produk bio seperti keju, roti, dan daging. Ada juga beberapa bengkel barang-barang yang dikerjakan dengan tangan. Walter mengajakku masuk ke Vergolderwerkstatt atau kurang lebih artinya bengkel pelapisan emas. Disana Walter ngobrol dengan Vergoldermeisterin yang artinya kurang lebih ahli pelapis emas, Anja Isensee. Aku sibuk melihat-lihat barang-barang yang ada disana. Ada sebuah salib sangat besar yang akan diperbaiki lapisan emasnya. Setelah itu aku dan Walter keluar dan duduk di dekat pasar untuk makan bekal yang kami bawa dari rumah. Walter makan roti dan tomat, aku makan plum. Setelah selesai makan, Walter membeli beberapa potong keju.
Di perjalanan pulang, masih di area padang rumput Domäne Dahlem, kami berjalan di jalan setapak yang diapit padang rumput berbunga warna-warni. Sebatang pohon menarik perhatianku. Aku bertanya kepada Walter pohon apa itu. Walter memintaku menebak namanya. Aku melihat daunnya... sepertinya familiar. Tebakanku benar. Itu adalah pohon ek atau oak.
Walter bilang gambar daun pohon ek bisa ditemukan di koin 1, 2, dan 5 Euro. Iya juga. Aku baru sadar setelah diberi tahu Walter. Selain itu pohon ek adalah pohon yang penting di Jerman, lanjut Walter.
Sayangnya, sekarang aku sudah lupa penjelasan Walter apa hehe, jadi aku mencari video tentang pohon ek (berbahasa Jerman) untuk menyegarkan kembali ingatanku di musim panas di Domäne Dahlem.
🌷




Post a Comment