Katharina dan temannya duduk di teras kafe dan rupanya mereka telah selesai makan. Sama seperti Walter, Katharina sangat ramah dan selalu bisa membuat topik pembicaraan. Teman Katharina juga baik. Kami bertiga ngobrol sebentar, kemudian kami pergi menuju WG Katharina. Katharina dan temannya lalu berpisah.
Untuk menuju ke WG Katharina kami melewati pintu depan dan koridor lalu naik dua tangga yang melingkar. Sambil berjalan aku menghafalkan arah jalan biar nggak salah jalan karena di sana ada pintu-pintu lain dan agak gelap.
Katharina tinggal bersama dua mahasiswa lain, Judith dan David. Saat itu aku bisa menempati kamar David sebelum pindah ke kamar Katharina karena Katharina masih harus tinggal satu hari di WG-nya dan David baru kembali saat Katharina pergi di hari berikutnya. Kamar David memiliki jendela yang menghadap ke halaman belakang. Di seberang kamar David ada banyak jendela lain dari gedung seberang. Kamar David sangat rapi dan ada beberapa tanaman yang diletakkan di depan jendela yang lebar. Yang aku suka dari jendela-jendela di sini adalah mereka bisa dibuka sesuai kebutuhan. Bisa dijeblak sampai terbuka lebar, bisa dibuka bagian atasnya aja, atau dibuka bagian bawahnya aja. Praktis banget!
Aku dikenalkan ke Judith. Setelah itu Katharina mengajakku keliling WG-nya. WG itu memiliki koridor, tiga kamar tidur, satu dapur, satu ruang penyimpanan, satu kamar mandi dan satu toilet. Katharina memberi tau kalau kamar mandi dan toilet mereka nggak ada jendelanya. Jadi, setelah memakai kamar mandi misalnya, pintu dan exhaust fan harus tetap dinyalakan sampai beberapa menit agar kembali kering. Di luar itu, menurutku WG Katharina sangat bagus. Lantainya dari kayu dan lampu-lampunya berwarna kuning. Dapurnya sangat terang dengan jendela yang lebar.
Setelah house tour, aku kembali ke kamar David untuk istirahat. Sorenya Katharina mengajakku bersepeda. Sepeda Katharina ada di ruang bawah tanah. Yang menjadi pertanyaanku: kenapa ruang bawah tanah harus gelap dan menyeramkan? :")
Katharina menyewakan aku sepeda. Sepeda yang bisa disewa ada di tempat-tempat tertentu di trotoar. Katharina memakai app dari ponselnya untuk membuka kunci sepeda yang akan disewa dan memberi tau aku cara untuk mengatur kecepatan sepedanya.
Aku bersepeda mengekor Katharina. Jalannya seperti terbalik karena selama ini aku terbiasa jalan di sisi kiri. Kami bersepeda menuju jembatan yang menghubungkan Dresden Neustadt dan Dresden Altstadt. Di ujung jembatan di bagian Neustadt kami berhenti. Katharina menjelaskan bangunan-bangunan yang ada di Altstadt dan merekomendasikan beberapa museum di Altstadt untuk dikunjungi.
Langit Dresden mendung terus sejak pagi. Sorenya hujan turun. Untungnya nggak terlalu deras. Kata Katharina, dia lupa nggak ngecek cuaca sebelum berangkat. Kami akhirnya kembali ke WG karena nggak bawa jas hujan.
🌷


Post a Comment