Saat mendapat kabar dari institut pusat kalau setelah seminar dua minggu boleh memperpanjang masa tinggal di Jerman selama satu minggu, aku bertanya ke temanku yang sebelumnya pernah tinggal cukup lama di Jerman tentang kota apa yang menarik untuk dikunjungi. Temanku menyarankan Dresden.
Aku membooking satu kamar hostel di Dresden Neustadt dan membuat itinerary selama satu minggu di Dresden untuk syarat apply visa. Saat itu aku belum tau kalau host familiy-ku di Berlin adalah Walter.
Saat sudah di rumah Walter di Berlin dan dua/tiga hari berikutnya akan berangkat ke Dresden, aku mencoba bayar tagihan hostel untuk satu minggu di Dresden. Gagal :/
Walter membantuku membayar dengan kartu lain, tapi hasilnya tetap nggak bisa :")
Walter yang sejak kedatanganku di Berlin sangat baik dan selalu membantu, menelepon Katharina, anaknya yang kuliah di Dresden. Bertepatan dengan jadwalku pergi ke Dresden, Katharina pulang ke Berlin karena telah libur setelah ujian. Di Dresden Katharina tinggal bersama dua mahasiswa lainnya di sebuah Wohngemeinschaft (WG) atau shared apartment. Singkat cerita, aku bisa menempati kamar Katharina di WG-nya selama satu minggu dengan mengganti sekian Euro kepada Katharina karena dia juga harus membayar uang sewa WG. Aku sangat bersyukur dipertemukan dengan keluarga Walter yang baik hati <3
Aku naik Flixbus ke Dresden. Sebelumnya Walter membantuku membeli tiket Flixbus online dan mencarikan rute S-Bahn terdekat dari terminal Flixbus tempat aku berangkat. Aku yang harus membiasakan diri dengan jadwal kereta dan bus yang sangat teratur di Berlin ini agak merasa tertekan dan merindukan jadwal keberangkatan bus yang sangat fleksibel di kampung halaman. Yha, bagaimanapun juga, di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Tidak boleh banyak sambat karena dunia tidak bergerak nuruti karepku :)
Aku sampai di terminal Flixbus kurang lebih 45 menit sebelum keberangkatan. Positifnya adalah aku bisa santai mencocokkan jadwal yang ada di tiket dan di papan informasi di terminal. Ada banyak orang dari negara yang berbeda-beda rupanya yang naik bus yang sama denganku. Di terminal itu juga banyak sekali burung dara yang bebas beterbangan dan tentu saja ranjaunya bertebaran di mana-mana. Aku yang membawa ransel dan tas tenteng harus memastikan kalau nggak ada kotoran burung sebelum aku meletakkan bawaanku.
Bus datang tepat waktu. Petugas bus mencocokkan identitasku di paspor dengan di tiket. Busnya tingkat dua. Aku naik ke lantai dua dan mengambil tempat duduk di baris kedua di seberang tangga naik. Yang sempat membuat insecure adalah ternyata di lantai dua ada beberapa kursi tertentu yang telah direservasi dan aku nggak tau sama sekali tentang ini :") Untungnya aku duduk di kursi yang memang bukan tempat duduk yang bisa direservasi.
Aku duduk sendirian sampai di terminal berikutnya. Di terminal itu naik beberapa anak muda memakai seragam. Salah satu dari mereka berkontak mata denganku saat dia menaiki tangga dan akhirnya duduk di sampingku. Dengan polosnya aku bertanya dia dari sekolah mana. Kan bodoh :) Di Jerman anak sekolah nggak pakai seragam :) Aku sama sekali lupa tentang hal ini. Ternyata dia anak pramuka.
Selama perjalanan aku nggak tidur karena pemandangan di luar belum pernah aku lihat sebelumnya. Bus melewati banyak sekali ladang yang sangat luas. Ladang-ladang itu tentu saja bukan ladang gandum Koko Krunch. Itu adalah ladang turbin angin. Di bayanganku turbin angin memang besar, tetapi aku nggak nyangka kalau turbin angin SERAKSASA itu! Aku merekam pemandangan yang sangat baru buatku ini. Saat aku menoleh ke sampingku, anak muda di sebelahku sudah tidur pulas.
Setelah dua jam tiga puluh menit dari kerangkatan, bus sampai di halte Flixbus di stasiun Dresden Neustadt. Saat akan turun, aku langsung ngeloyor gitu aja setelah bilang permisi. Untuk alasan kesopanan, aku harusnya pamit ke rekan sebangkuku itu. Hhh, ya sudahlah. Di pelataran stasiun, aku berhenti sebentar dan membuka map menuju sebuah kafe untuk menemui Katharina.
🌷


Post a Comment