Perkara Batu (Part 19)

April 29, 2024

Awan gelap yang sempat menyelimuti langit RIIZE dan BRIIZE telah berlalu. Mereka kembali bisa melihat langit biru. Ngomong-ngomong soal langit biru, tanggal 26 April kemarin RIIZE mengadakan event spesial 'R.B.R DAY (RIIZE, BRIIZE, RISE DAY)'. 50 BRIIZE yang terpilih dari hasil random draw beberapa hari sebelumnya hadir di acara ini. Agenda acara ini adalah signing event, QnA, group challenge, dan special photo time. Nah, RIIZE memberi kejutan dengan mengumumkan warna biru langit sebagai dresscode untuk fancon 'RIIZING DAY' di Seoul.

πŸ™ƒπŸ™ƒπŸ™ƒ kenapa bukan oren aja sih @ brondong-brondong RIIZE

"Muka gue tuh kalo dikasi warna sky blue gak cocok. Gak menyala warna kulit gue." kata Lily yang sedang membahas ulasan 'R.B.R DAY' bersama anak kamar sebelah. Anak kamar sebelah cuma ketawa aja.

Fokus Lily lalu berganti ke special photo time. RIIZE memakai kostum yang telah disediakan BRIIZE. Eunseok memakai kostum rider.


Lily menjadi hilang akal karena 10 tahun yang lalu di tahun 2004...

VIC ZHOU JUGA PERNAH PAKE KOSTUM RIDER DI DRAMA 'MARS'😭 MENANGIS AJA GUE😭😭😭

© Comic Ritz Production

"Gue mikirnya emang langsung ke 'Mars' hahahaha," anak kamar sebelah sepemikiran dengan Lily.

Setelah Lily bisa melihat vibe Vic Zhou di Song Eunseok, dia jadi sering menemukan kesamaan dari dua biasnya ini. Karena saking seringnya melihat kesamaan mereka, Lily dan anak kamar sebelah menyebut Eunseok sebagai titisan Vic ZhouπŸ™ƒ

Semesta mendukung gue banget gak siiiiiiiiiih~~

Iya aja biar cepet.

Btw, foto Eunseok yang pake jaket rider gue ambil dari akun Mba Haneul di X. Udah ijin ybs untuk diupload di blog ini. κ°‘μ‚¬ν•©λ‹ˆλ‹€ ν•˜λŠ˜λ‹˜!!

🌷

Read More

Perkara Batu (Part 18)

April 28, 2024

RIIZE bertolak ke Belgia pada 18 April 2024 dan tampil di Music Bank Antwerp yang diadakan pada 20 April 2024. Mereka tiba kembali di Korea tanggal 22 April 2024. Eunseok update di Weverse satu hari setelahnya.

Lily yang sudah menanti-nantikan update dari Eunseok jelas langsung membaca postingan Eunseok dan mendadak heboh sendiri lebih dari biasanya.

Awal ceritanya begini... saat Eunseok sudah di Belgia, Lily menulis fanletter dan mengajukan beberapa pertanyaan seperti pertanyaan basic tentang makanan...

... 벨기에 μŒμ‹ λ¨Ήμ–΄λ΄€μ–΄?|

Kemudian tentang bagaimana cuaca di sana dan keadaan Eunseok...

... 날씨가 μ–΄λ•Œ? 은석이 기뢄이 μ’‹μ€λ‹ˆ?|

Lily sepertinya sudah bisa membaca salah satu kebiasaan Eunseok setelah pulang dari trip atau travelling business travel: Eunseok terpantau selalu membagikan foto tempat yang dia kunjungi. Lily pun menutup suratnya dengan menulis...

from: 은석이가 μ—¬ν–‰ 쀑에 찍은 사진을 μ’‹μ•„ν•˜λŠ” λ©”νƒˆ λΈ”λ ˆμ΄μ¦ˆλ“œ|

Di postingannya, Eunseok menceritakan dengan singkat tentang perasaannya setelah bertemu BRIIZE di Antwerp. Dia juga menulis kalau cuaca di Antwerp bagus saat dia berada di sana.

Lily merasa pertanyaannya tentang cuaca terjawab. Kata 'merasa' harus banget dicetak tebal karena ini hanya pikiran sepihak.

Pertanyaannya tentang makanan Belgia juga secara tidak langsung terjawab ketika Eunseok membalas komentar BRIIZE tentang coklat Belgia.


Selain itu Eunseok juga mengupload satu foto yang dia ambil saat jalan-jalan di Antwerp.

Sekali lagi, hari Lily menjadi lebih cerah karena Eunseok :)

🌷

Read More

Di Jerman: Hari Kedua di Dresden

April 27, 2024

Aku pindah dari kamar David ke kamar Katharina. Kamar Katharina ada di bagian belakang WG, bersebelahan dengan kamar mandi (yang berhadapan dengan toilet) dan menghadap ke dapur. Kamarnya luas banget dan memiliki dua pasang jendela yang besar. Waktu itu Katharina sedang packing karena akan pulang ke rumah Walter di Berlin.

Katharina punya banyak banget buku di kamarnya. Dia menunjukkan beberapa buku yang ada di kamarnya, seperti buku yang telah, sedang, dan akan dia baca. Dia juga memberi tau aku buku panduan tentang gedung-gedung di Dresden Altstadt yang menarik untuk dikunjungi. Aku boleh pakai buku itu sebagai acuan. Selain itu, Katharina juga merekomendasikan dua novel terbitan Diogenes: 'Die Enkelin' dan 'Der Vorleser'.


Saat ngobrol dengan Katharina, aku merasa kok udara makin dingin ya. Saat itu emang mendung sih, tapi kok ada yang nggak biasa. Saat aku lihat ke bawah, jari-jari kakiku sudah biru. Harusnya aku pakai celana panjang dan kaos kaki seperti Katharina :")

Katharina berangkat ke Berlin siang menjelang sore. Aku istirahat di kamarnya sambil sesekali baca buku panduan wisata di Dresden Altstadt karena aku berencana menjelajah Altstadt.

🌷

Read More

Di Jerman: Bertemu Katharina di Dresden

April 22, 2024

Katharina dan aku janjian bertemu di sebuah kafe di Dresden Neustadt. Dia memberiku alamat kafe tempat dia dan temannya sarapan sekaligus makan siang. Dengan bantuan map aku menelusuri jalan dari stasiun Dresden Neustadt menuju ke kafe itu.

Katharina dan temannya duduk di teras kafe dan rupanya mereka telah selesai makan. Sama seperti Walter, Katharina sangat ramah dan selalu bisa membuat topik pembicaraan. Teman Katharina juga baik. Kami bertiga ngobrol sebentar, kemudian kami pergi menuju WG Katharina. Katharina dan temannya lalu berpisah.

Untuk menuju ke WG Katharina kami melewati pintu depan dan koridor lalu naik dua tangga yang melingkar. Sambil berjalan aku menghafalkan arah jalan biar nggak salah jalan karena di sana ada pintu-pintu lain dan agak gelap.

Katharina tinggal bersama dua mahasiswa lain, Judith dan David. Saat itu aku bisa menempati kamar David sebelum pindah ke kamar Katharina karena Katharina masih harus tinggal satu hari di WG-nya dan David baru kembali saat Katharina pergi di hari berikutnya. Kamar David memiliki jendela yang menghadap ke halaman belakang. Di seberang kamar David ada banyak jendela lain dari gedung seberang. Kamar David sangat rapi dan ada beberapa tanaman yang diletakkan di depan jendela yang lebar. Yang aku suka dari jendela-jendela di sini adalah mereka bisa dibuka sesuai kebutuhan. Bisa dijeblak sampai terbuka lebar, bisa dibuka bagian atasnya aja, atau dibuka bagian bawahnya aja. Praktis banget!

Aku dikenalkan ke Judith. Setelah itu Katharina mengajakku keliling WG-nya. WG itu memiliki koridor, tiga kamar tidur, satu dapur, satu ruang penyimpanan, satu kamar mandi dan satu toilet. Katharina memberi tau kalau kamar mandi dan toilet mereka nggak ada jendelanya. Jadi, setelah memakai kamar mandi misalnya, pintu dan exhaust fan harus tetap dinyalakan sampai beberapa menit agar kembali kering. Di luar itu, menurutku WG Katharina sangat bagus. Lantainya dari kayu dan lampu-lampunya berwarna kuning. Dapurnya sangat terang dengan jendela yang lebar.

Setelah house tour, aku kembali ke kamar David untuk istirahat. Sorenya Katharina mengajakku bersepeda. Sepeda Katharina ada di ruang bawah tanah. Yang menjadi pertanyaanku: kenapa ruang bawah tanah harus gelap dan menyeramkan? :")

Katharina menyewakan aku sepeda. Sepeda yang bisa disewa ada di tempat-tempat tertentu di trotoar. Katharina memakai app dari ponselnya untuk membuka kunci sepeda yang akan disewa dan memberi tau aku cara untuk mengatur kecepatan sepedanya.

Aku bersepeda mengekor Katharina. Jalannya seperti terbalik karena selama ini aku terbiasa jalan di sisi kiri. Kami bersepeda menuju jembatan yang menghubungkan Dresden Neustadt dan Dresden Altstadt. Di ujung jembatan di bagian Neustadt kami berhenti. Katharina menjelaskan bangunan-bangunan yang ada di Altstadt dan merekomendasikan beberapa museum di Altstadt untuk dikunjungi.

Langit Dresden mendung terus sejak pagi. Sorenya hujan turun. Untungnya nggak terlalu deras. Kata Katharina, dia lupa nggak ngecek cuaca sebelum berangkat. Kami akhirnya kembali ke WG karena nggak bawa jas hujan.

🌷

Read More

Di Jerman: Perjalanan ke Dresden

April 18, 2024

Saat mendapat kabar dari institut pusat kalau setelah seminar dua minggu boleh memperpanjang masa tinggal di Jerman selama satu minggu, aku bertanya ke temanku yang sebelumnya pernah tinggal cukup lama di Jerman tentang kota apa yang menarik untuk dikunjungi. Temanku menyarankan Dresden.

Aku membooking satu kamar hostel di Dresden Neustadt dan membuat itinerary selama satu minggu di Dresden untuk syarat apply visa. Saat itu aku belum tau kalau host familiy-ku di Berlin adalah Walter.

Saat sudah di rumah Walter di Berlin dan dua/tiga hari berikutnya akan berangkat ke Dresden, aku mencoba bayar tagihan hostel untuk satu minggu di Dresden. Gagal :/

Walter membantuku membayar dengan kartu lain, tapi hasilnya tetap nggak bisa :")

Walter yang sejak kedatanganku di Berlin sangat baik dan selalu membantu, menelepon Katharina, anaknya yang kuliah di Dresden. Bertepatan dengan jadwalku pergi ke Dresden, Katharina pulang ke Berlin karena telah libur setelah ujian. Di Dresden Katharina tinggal bersama dua mahasiswa lainnya di sebuah Wohngemeinschaft (WG) atau shared apartment. Singkat cerita, aku bisa menempati kamar Katharina di WG-nya selama satu minggu dengan mengganti sekian Euro kepada Katharina karena dia juga harus membayar uang sewa WG. Aku sangat bersyukur dipertemukan dengan keluarga Walter yang baik hati <3

Aku naik Flixbus ke Dresden. Sebelumnya Walter membantuku membeli tiket Flixbus online dan mencarikan rute S-Bahn terdekat dari terminal Flixbus tempat aku berangkat. Aku yang harus membiasakan diri dengan jadwal kereta dan bus yang sangat teratur di Berlin ini agak merasa tertekan dan merindukan jadwal keberangkatan bus yang sangat fleksibel di kampung halaman. Yha, bagaimanapun juga, di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Tidak boleh banyak sambat karena dunia tidak bergerak nuruti karepku :)

Aku sampai di terminal Flixbus kurang lebih 45 menit sebelum keberangkatan. Positifnya adalah aku bisa santai mencocokkan jadwal yang ada di tiket dan di papan informasi di terminal. Ada banyak orang dari negara yang berbeda-beda rupanya yang naik bus yang sama denganku. Di terminal itu juga banyak sekali burung dara yang bebas beterbangan dan tentu saja ranjaunya bertebaran di mana-mana. Aku yang membawa ransel dan tas tenteng harus memastikan kalau nggak ada kotoran burung sebelum aku meletakkan bawaanku.

Bus datang tepat waktu. Petugas bus mencocokkan identitasku di paspor dengan di tiket. Busnya tingkat dua. Aku naik ke lantai dua dan mengambil tempat duduk di baris kedua di seberang tangga naik. Yang sempat membuat insecure adalah ternyata di lantai dua ada beberapa kursi tertentu yang telah direservasi dan aku nggak tau sama sekali tentang ini :") Untungnya aku duduk di kursi yang memang bukan tempat duduk yang bisa direservasi.

Aku duduk sendirian sampai di terminal berikutnya. Di terminal itu naik beberapa anak muda memakai seragam. Salah satu dari mereka berkontak mata denganku saat dia menaiki tangga dan akhirnya duduk di sampingku. Dengan polosnya aku bertanya dia dari sekolah mana. Kan bodoh :) Di Jerman anak sekolah nggak pakai seragam :) Aku sama sekali lupa tentang hal ini. Ternyata dia anak pramuka.

Selama perjalanan aku nggak tidur karena pemandangan di luar belum pernah aku lihat sebelumnya. Bus melewati banyak sekali ladang yang sangat luas. Ladang-ladang itu tentu saja bukan ladang gandum Koko Krunch. Itu adalah ladang turbin angin. Di bayanganku turbin angin memang besar, tetapi aku nggak nyangka kalau turbin angin SERAKSASA itu! Aku merekam pemandangan yang sangat baru buatku ini. Saat aku menoleh ke sampingku, anak muda di sebelahku sudah tidur pulas.

Setelah dua jam tiga puluh menit dari kerangkatan, bus sampai di halte Flixbus di stasiun Dresden Neustadt. Saat akan turun, aku langsung ngeloyor gitu aja setelah bilang permisi. Untuk alasan kesopanan, aku harusnya pamit ke rekan sebangkuku itu. Hhh, ya sudahlah. Di pelataran stasiun, aku berhenti sebentar dan membuka map menuju sebuah kafe untuk menemui Katharina.

🌷

Read More

Di Jerman: Sehari Sebelum ke Dresden

April 14, 2024

Masih tentang ceritaku di Jerman saat musim panas tahun lalu.

Selama dua minggu penuh aku berada di Berlin. Senin sampai Jumat aku mengikuti seminar. Di akhir pekan aku bisa santai menikmati beberapa tempat di Berlin. Hari Sabtu di weekend minggu pertama aku habiskan dengan jalan-jalan di alam bersama Walter. Hari Minggunya aku jalan-jalan di pusat kota bersama tiga orang dari seminar. Di weekend minggu kedua aku jalan-jalan sendirian di sekitar distrik tempat Walter tinggal.

Aku menjelajah daerah di sisi lain stasiun. Ternyata di seberang sana masih banyak tempat tinggal dan pertokoan. Aku memulai agendaku hari itu saat matahari masih bersinar. Masih sore kalau nggak salah sih. Langitnya masih cerah berwarna biru dengan beberapa awan putih.

Aku mengikuti saja ke mana kaki ini melangkah dan sampai di Plantagenstraße. Seperti namanya, di jalan itu aku temukan banyak sekali tumbuhan yang berbunga warna-warni. Di jalan itu sangat sepi. Hampir nggak ada orang sama sekali. Aku hanya berpapasan dengan dua orang. Aku berpapasan dengan orang kedua di depan Altbau (bangunan tua) berwarna peach dan putih yang di tamannya ada banyak bunga yang menarik perhatianku. Karena menatapku agak lama, jadi aku menyapa orang itu. Orangnya ternyata ramah dan bertanya aku sedang apa. Saat itu aku sedang mengamati bunga-bunga dan memotretnya.

Setelah merasa puas, aku putar balik ke arah stasiun dan melihat pemandangan ini dan langsung ingat teori menggambar dengan perspektif satu titik lenyap :)

Hari sudah mulai gelap. Lampu-lampu di beberapa rumah mulai dinyalakan. Suasananya sunyi, tapi nggak bikin takut. Samar-samar terdengar suara orang ngobrol saat aku melewati jalan yang berseberangan dengan kafe.

Saat hari sudah gelap, aku kembali ke tempat tinggal Walter untuk packing karena di hari berikutnya aku akan berangkat ke Dresden, kota kedua di Jerman yang menjadi tujuanku setelah Berlin.

🌷

Read More