Di Jerman: Hari Minggu di Berlin Bersama Geng Dadakan

December 31, 2023

Hari Minggu aku berjalan-jalan bersama dua temanku dari Indonesia dan seorang kenalan dari Taiwan. Kami mengunjungi Flohmarkt di dekat stasiun Tiergarten. Di Flohmarkt ini dijual barang-barang antik seperti lukisan, barang-barang porselen, dan pernak-pernik untuk rumah. Ada juga yang menjual baju dan tas. Kami berempat cuma window shopping aja sih. Karena melihat mobil es krim, aku dan kenalanku dari Taiwan akhirnya beli es krim.

Setelah dari Flohmarkt kami menuju gerai Burger King di dekat Tiergarten. Ini ideku karena aku pengen banget makan burger entah kenapa hehe. Tiga orang lainnya nggak protes, jadi ya gas aja. Gerainya sangat luas dan nggak banyak orang. Kami kemudian memesan burger lalu duduk di kursi luar. Aku dan kenalanku dari Taiwan pesan jadi satu. Masing-masing dari kami dapat satu burger. Dua temanku dari Indonesia pesan sendiri-sendiri. Mereka masing-masing dapat dua burger. Sambil makan kami membahas banyak hal yang receh-receh sampai ke pembahasan bahasa masing-masing. Kenalan dari Taiwan mengajari kami yang dari Indonesia beberapa frase dalam bahasa Mandarin Taiwan. Kami juga membahas kalau bahasa daerah yang kami gunakan berbeda-beda. Dua temanku dari Sunda. Dengan randomnya kami kemudian membuat monolog dalam bahasa daerah masing-masing. Kenalan dari Taiwan bisa mengenali perbedaan dialek kami. Sambil makan kentang goreng yang masih tersisa, kami lanjut chit-chat tema receh yang lain. Tiba-tiba salah satu temanku dari Indonesia memberikan aku burgernya. Katanya dia sudah kenyang. Aku sih seneng-seneng aja dikasih burger gratisan. Lumayan makan dua burger hehe.

Kami melanjutkan agenda hari itu ke Tiergarten. Tempatnya sangat rindang karena banyak pepohonan. Jalannya setapak berkerikil. Di Tiergarten kami juga sekalian mengerjakan tugas yang diberikan di seminar: mencari objek yang berkaitan dengan budaya yang ditemui di jalan. Aku saat itu mengambil gambar tempat sampah yang fungsinya berbeda berdasarkan warnanya. Kenalan dari Taiwan memotret botol kaca yang ditaruh di atas atau di samping tempat sampah. Botol kaca itu bisa diambil oleh orang yang membutuhkan dan kemudian ditukarkan dengan uang.

Kami berjalan semakin jauh ke dalam Tiergarten. Disana ternyata ada semacam cafe terbuka yang menjual berbagai macam minuman dan makanan. Kami kemudian duduk di salah satu bangku. Salah satu temanku dari Indonesia memesan Apfelsaftschorle. Tiga yang lainnya nggak pesan apa-apa karena buat kami harganya mahal tentu saja dan kami juga masih kenyang.

Setelah itu kami berjalan lagi melewati padang rumput dengan banyak pohon dan semak-semak. Di salah satu sudut taman ada banyak orang sedang berjemur. Semuanya telanjang. Ternyata itu memang sudah biasa. Oke. (Sambil menulis postingan ini aku mencari tau lagi tentang situasi ini. Aku menemukan penjelasannya di artikel Berlin: Trotz Gesetz: Freibrief für Nackte im Park, Nacktbaden im Tiergarten (Berlin), dan Wie sauber? Wie grün? Wie nackt?).

Tujuan kami selanjutnya adalah mengikuti saja kemana kaki melangkah...

...eh tau-tau sampai di kastil Hogwarts, nunggu dipanggil masuk ke The Great Hall hehe.
Bukan ternyata. Ini tangga naik ke...

...Siegesäule~
Lalu kami terus berjalan dan sampai di...

...Brandenburger Tor yang ikonik itu :)
Disana kami foto-foto tentu saja seperti turis-turis yang lain.
Setelah puas foto-foto, kami lanjut ke...

...Berliner Stadtschloss yang warnanya minimalis dan sangat estetik.
Awalnya kami hanya foto-foto di depan kastilnya.
Lalu salah seorang dari kami ngide untuk bikin video.
Jadilah heboh bikin video alay sampai dilihatin beberapa turis lain yang sudah bapak-bapak sampai orangnya ketawa. Ide bikin video alay berlanjut di tempat berikutnya...

...di dekat Berliner Dom, tapi kami memilih latar belakang Fernsehturm yang ada di foto ini.

Setelah puas ngalay, kami makan sore di sebuah kedai ramen Vietnam. Aku pesan ramen vegetarian dan wedang jahe ceritanya. Jahenya diiris tipis-tipis. Kalo kata gue teh mending digeprek aja biar berasa.


Saat makan ramen ini aku melihat kucing yang aku ceritakan di postingan sebelumnya. Kucingnya sedang duduk di jendela yang telah dipasang jaring.


Kami berempat berpisah setelah makan. Aku dan salah satu temanku yang rumahnya searah dengan jalur kereta yang aku ambil, mampir sebentar ke bekas Tembok Berlin.


Saat itu langit yang mendung menjadi lebih gelap dan udara menjadi lebih dingin. Jam sudah menunjukkan pukul 20:30, tapi matahari memang belum tenggelam. Kami berjalan ke stasiun kereta Nordbahnhof di seberang reruntuhan Tembok Berlin. Kami memasuki lorong stasiun. Sepi banget, nggak ada orang sama sekali.


Aku sebenarnya menikmati suasana mendung saat itu. Jadi kesannya gloomy-gloomy khas Eropa wkwkwkwkwk. Temanku (yang hubungannya denganku mendadak menjadi Tom & Jerry sejak awal seminar di Berlin ini) tiba-tiba memintaku melihat ke arah kiri. Di tembok lorong stasiun itu terpasang foto-foto saat terjadi operasi pelarian warga Jerman Timur ke Jerman Barat yang dicetak sangat besar dan warnanya agak suram. Aku lupa detail fotonya bagaimana, yang jelas temanku nyeletuk sesuatu yang berbau horor setelah dia membaca keterangan di foto tersebut yang berakhir dengan kami ketakutan sendiri dan lari menuju jalur kereta. Geblek emang. Padahal itu bukan cerita horor. Kami mengetahuinya setelah kami mengikuti kegiatan jalan-jalan ke Tembok Berlin bersama peserta seminar dan pemimpin seminar kami di hari berikutnya.

🌷
Read More

Di Jerman: Sabtu di Berlin Bersama Walter

December 30, 2023

Walter mengajakku wandern (seperti kegiatan lintas alam dalam Pramuka) di hari Sabtu. Kami berangkat jam 10 pagi. Tujuan pertama kami adalah Grunewald. Kami berjalan ke halte bus yang menuju ke Grunewald.

Selama berjalan di Grunewald, aku dan Walter membahas banyak hal. Sambil berjalan aku juga melihat sekeliling. Pohon-pohonnya tinggi dan daunnya hijau. Saat itu mendung, suasana di Grunewald membawa imajinasiku ke film-film horor barat. Aku mengatakan apa yang ada di kepalaku ke Walter. Walter tiba-tiba memperingatkan aku untuk tidak melewati taman atau hutan di malam hari. Aku sudah takut karena imajinasi horor yang ada di kepalaku, tapi ternyata alasannya adalah ada orang mabuk di taman atau hutan di malam hari dan itu berbahaya. Iya juga sih.

Di Grunewald banyak sekali anjing yang berlarian dan bermain dengan sesamanya. Di Grunewald anjing boleh dilepaskan talinya dan bebas berlarian. Aku dan Walter berpapasan dengan sekelompok anjing besar yang sedang kejar-kejaran. Di antara mereka ada yang sudah menggeram. Walter mengajakku untuk segera berlalu. Karena tidak tahu sifat anjing, aku ikut saja apa kata Walter.

Aku bertanya kepada Walter kenapa dia dan Maria tidak memelihara anjing atau kucing. Kata Walter, hewan seharusnya bebas di alam dan tidak dikurung di rumah. Di Jerman hewan memang tidak boleh berkeliaran sembarangan. Ada banyak aturan yang harus dipatuhi oleh pemilik hewan. Kucing misalnya, harus tetap berada di dalam rumah. Selama dua minggu di Berlin, aku hanya melihat satu kucing yang sedang duduk di jendela yang dipasang jaring.

Tujuan wandern kami setelah Grunewald adalah Domäne Dahlem, sebuah perkebunan/peternakan dengan suasana yang tenang dan vibenya sangat slow living di tengah hiruk-pikuk kota Berlin. Pintu masuknya seperti tersembunyi di jalan setapak bersemak tinggi. Pengunjung bisa membukanya sendiri karena ini ruang publik.

Setelah melewati gerbang, kami disambut hamparan padang rumput dengan bunga-bunga liar berwarna biru. Aku sangat terpesona dengan pemandangan itu karena sudah lama tidak berada di alam bebas. Ingin rasanya berlarian seperti monyet lepas di padang rumput berbunga.


Di hari Sabtu itu aku melihat beberapa keluarga dengan anak yang masih balita atau usia TK berkunjung ke Domäne Dahlem. Kata Walter, anak-anak bisa belajar tentang hewan ternak di Domäne Dahlem.


Domäne Dahlem tidak hanya memiliki padang rumput, tapi juga pasar kecil yang menjual produk-produk bio seperti keju, roti, dan daging. Ada juga beberapa bengkel barang-barang yang dikerjakan dengan tangan. Walter mengajakku masuk ke Vergolderwerkstatt atau kurang lebih artinya bengkel pelapisan emas. Disana Walter ngobrol dengan Vergoldermeisterin yang artinya kurang lebih ahli pelapis emas, Anja Isensee. Aku sibuk melihat-lihat barang-barang yang ada disana. Ada sebuah salib sangat besar yang akan diperbaiki lapisan emasnya. Setelah itu aku dan Walter keluar dan duduk di dekat pasar untuk makan bekal yang kami bawa dari rumah. Walter makan roti dan tomat, aku makan plum. Setelah selesai makan, Walter membeli beberapa potong keju.


Di perjalanan pulang, masih di area padang rumput Domäne Dahlem, kami berjalan di jalan setapak yang diapit padang rumput berbunga warna-warni. Sebatang pohon menarik perhatianku. Aku bertanya kepada Walter pohon apa itu. Walter memintaku menebak namanya. Aku melihat daunnya... sepertinya familiar. Tebakanku benar. Itu adalah pohon ek atau oak.


Walter bilang gambar daun pohon ek bisa ditemukan di koin 1, 2, dan 5 Euro. Iya juga. Aku baru sadar setelah diberi tahu Walter. Selain itu pohon ek adalah pohon yang penting di Jerman, lanjut Walter.

Sayangnya, sekarang aku sudah lupa penjelasan Walter apa hehe, jadi aku mencari video tentang pohon ek (berbahasa Jerman) untuk menyegarkan kembali ingatanku di musim panas di Domäne Dahlem.

🌷
Read More

Di Jerman: Seminar Dua Minggu di Berlin

December 29, 2023

Tujuan (((resmi)))ku ke Berlin adalah untuk menghadiri seminar yang berfokus pada budaya. Lebih spesifiknya budaya di Berlin. Seminarnya diadakan selama dua minggu, dari Senin sampai Jumat.

Selain kegiatan interaktif di kelas, ada juga kegiatan lain yang menarik.

1. Menjelajah Kreuzberg

Peserta seminar dibagi menjadi beberapa grup. Aku dan grupku mendapat bagian menjelajah Kreuzberg, salah satu distrik di kota Berlin. Kami mendapat pamflet yang di dalamnya terdapat petunjuk-petunjuk dan soal cerita yang harus diselesaikan. Sebenarnya kami diberi waktu dua jam aja dan nggak harus semua soal dikerjakan, tapi grup kami terlalu ambis. Jadi kami mengerjakan semua soal dan menjelajah Kreuzberg di bawah terik matahari sampai kaki gempor. Besoknya kami harus mempresentasikan hasil penjelajahan tersebut.



2. Menyaksikan Impro-Theater Schmeterlings

Baru pertama ini menyaksikan pertunjukan teater yang pemainnya harus memerankan adegan secara spontan, tanpa skrip, dan berdasarkan permintaan penonton. Pemain teaternya ada tiga orang dan kocak semua. Musik pengiringnya dari keyboard yang dimainkan oleh satu orang anggota teater juga.


3. Mengenal mitos-mitos dari Berlin

Kami bekerja dalam tim. Setiap grup harus berkeliling di lorong-lorong institut dan membaca teks tentang mitos-mitos yang berasal dari Berlin yang tertempel di dinding. Dengan bantuan lembar kerja kami membuat rangkuman dari mitos-mitos tersebut. Di akhir kegiatan kami mendapat kejutan: setiap peserta diberi sebuah buku yang berisi semua mitos yang tertempel di dinding institut plus mitos-mitos yang lain😃


4. Tur dari Gerbang Brandenburg sampai alun-alun Gendarmenmarkt

Tur ini dipimpin oleh Mattias Rau. Pak Rau menceritakan sejarah di setiap pemberhentian, seperti saat di Gerbang Brandenburg Pak Rau menceritakan sejarah Jerman Barat dan Jerman Timur. Selain karena cinta (baca: menjadi budak cinta Song Eunseok), otak hamba juga bisa off kalau kena sejarah, apalagi ini sejarahnya diceritakan dalam bahasa Jerman. Hamba berusaha semaksimal yang otak hamba bisa untuk memahami penjelasan dari Pak Rau. Yang menarik dari materi yang disampaikan Pak Rau adalah peta otentik yang Pak Rau dapat saat Berlin masih dipisahkan Tembok Berlin. Pak Rau menyimpan memento tentang sejarah Jerman yang berkaitan dengan Berlin dengan rapi. Sebuah inspirasi untuk mengabadikan sejarah pribadi.



5. Mengunjungi stasiun TV ZDF

Pukul 7:35 waktu Jerman semua peserta harus sudah berada di depan gedung ZDF. Aku yang sudah berusaha keras bangun lebih pagi ini tetap saja terlambat akibat terlalu pede dengan kelancaran perjalanan menggunakan kereta di Berlin. Di tengah perjalanan, kereta yang aku tumpangi harus berhenti karena ada kejadian darurat: seorang penumpang yang akan berangkat kerja pingsan dan jatuh dari kursinya. Setelah sadar dari shock sesaat, aku segera mengambil jalur kereta lain yang mana itu sangat emboh karena aku hanya bermodal ngecek di Maps. Buntutnya adalah aku keluar dari stasiun yang lain, padahal sehari sebelumnya aku sudah menghafalkan jalan ke studio ZDF dari stasiun Unter den Linden. Aku mengikuti jalan yang ada di Maps dan sampai di pintu ZDF. Kok sepi. Ternyata itu adalah pintu masuk kru :”) Aku harus putar balik dengan berlari memutari jajaran gedung menuju pintu depan studio ZDF. Untungnya aku sampai tepat sebelum semua peserta dicek paspornya dan dicocokkan identitasnya. Ada banyak orang dari luar seminar juga yang mengikuti kegiatan ini. Kami diajak menjadi penonton di acara live ZDF-Morgenmagazin dan setelah itu kami dipandu mengikuti tur studio. Kunjungan ke studio ZDF ini adalah pengantar untuk masuk ke diskusi di kelas :”)


6. Berjalan-jalan ke Tembok Berlin

Sebelum memulai tur, peserta seminar dibagi menjadi grup kecil yang terdiri dari dua orang dan harus membuat ringkasan singkat dari tempat bersejarah di Tembok Berlin. Aku mendapat teks tentang Tunnel 57 atau Terowongan 57. Terowongan ini digali dari toko roti yang sudah tidak dipakai lagi di Berlin Barat menuju ke wilayah Berlin Timur dan digunakan sebagai rute pelarian untuk warga Jerman Timur. Operasi pelarian ke wilayah Jerman Barat banyak menelan korban jiwa. Mereka ditembak mati oleh petugas yang berjaga di perbatasan. Ada juga korban yang masih anak-anak. Annette, salah satu pemateri seminar kami, menjelaskan kalau anak-anak kecil itu bukan ditembak mati, melainkan karena mereka terjatuh ke sungai di perbatasan saat bermain dan akhirnya tenggelam karena tidak ada yang berani menolong. Jika menolong, berarti dianggap melewati perbatasan dan ditembak mati di tempat.



7. Tur perahu di Sungai Spree

Tur ini murni untuk healing😊 Turnya berlangsung selama satu jam. Tur ini sangat menyenangkan menurutku, karena aku bisa menikmati pemandangan dengan tenang di atas perahu. Selama tur aku melihat banyak bangunan-bangunan penting di Berlin. Yang menarik perhatianku karena sangat estetik adalah Cube Berlin. Bentuk bangunannya kubus. Iya. Namanya juga cube. Wujud Cube Berlin bisa dilihat di foto di bawah ini agar supaya lebih jelas. Sangat cantik seperti sepatu kaca Cinderella.

🌷

Read More

Di Jerman: Hari pertama di Berlin

December 28, 2023


Jerman adalah negeri dongeng yang sudah lama ingin aku kunjungi. Setelah 15 tahun bermimpi pergi ke Jerman, akhirnya di musim panas tahun ini aku diberi kesempatan menjejakkan kaki di tiga kota di Jerman. Kota pertama yang aku tuju adalah Berlin.

Dua minggu sebelum berangkat, aku mendapat kontak keluarga angkat di Berlin melalui email. Keluarga angkatku menghubungi aku via email dan bertanya beberapa hal penting seperti jadwal kedatanganku disana. Keluarga angkatku juga mengirimi aku foto mereka. Akupun mengirimkan fotoku supaya mereka juga tau wujud "anak kos" yang akan menginap selama dua minggu di rumah mereka. Keluarga angkatku adalah pasangan suami istri bernama Walter dan Maria. Walter akan menjemputku saat aku tiba di Berlin.

Fast forward ke hari aku sampai di Bandara Berlin Brandenburg (BER). Walter memberi tau aku via WhatsApp kalau dia memakai kemeja putih dan sudah ada di pintu kedatangan. Sayangnya, aku nggak melihat Walter, padahal dia sudah membawa kertas bertuliskan namaku. Untungnya, Walter mengirimiku foto sebelumnya, jadi aku bisa mengenalinya dengan cepat saat dia lari mencariku. Kami berjalan keluar bandara dan menuju tempat parkir. Disana Walter mencari mobil sewaan dari aplikasi Carsharing. Mobil-mobil yang bisa disewa bisa ditemukan di area parkir bandara. Mobilnya ditandai dengan stiker supaya bisa dikenali kalau itu adalah mobil Carsharing.


Tempat tinggal Walter ada di lantai dua di sebuah Altbau (bangunan tua). Walter membawakan koperku yang beratnya sekitar 17 kg dan kami harus naik empat tangga. Sesampainya di tempat tinggal Walter, aku disambut Maria. Kemudian Walter menunjukkan kamar untukku dan kamar mandi yang bisa aku pakai selama dua minggu. Setelah itu Walter mengajakku keliling rumahnya. Rumah Walter dan Maria bagus dan sangat rapi. Perintilan-perintilan kecil seperti patung angsa dari kayu tertata rapi di tempatnya yang berupa rak dinding dengan banyak ruang kecil. Nggak ada barang yang tercecer sama sekali di rumah mereka. Di dinding koridor ada foto-foto dari keluarga Walter dan Maria. Mulai dari kakek buyut sampai dua anak mereka. Foto-fotonya seperti timeline dan dibagi sesuai garis keluarga Walter dan Maria. Di bagian tengah ada foto Walter dan Maria bersama saat masih muda dan foto dua anak mereka saat masih balita dan saat sudah remaja.

Setelah house tour selesai, Walter mengajakku ke stasiun kereta untuk membeli tiket mingguan yang aku pakai untuk naik kereta menuju institut tempat seminar yang aku ikuti diadakan. Jarak dari tempat tinggal Walter menuju stasiun kurang lebih 15 menit. Kami jalan kaki dan Walter menceritakan sedikit tentang distrik tempat tinggalnya. Saat melewati sebuah toko topi yang tutup karena saat itu hari Minggu, Walter berhenti dan melihat topi yang dipajang di dalam toko lalu bertanya topi mana yang cocok untuk dia. Di sepanjang jalan menuju stasiun, seingatku (hampir) semua toko disana tutup karena hari itu hari Minggu. Hari Minggu di Jerman adalah Ruhetag (hari tidak masuk kerja).

Sesampainya di stasiun, Walter membantuku membeli tiket di mesin tiket berwarna kuning. Setelah itu kami naik satu tangga menuju peron. Disana hanya ada dua jalur kereta. Walter memberi tau aku kereta jalur mana yang harus aku ambil untuk pergi menuju tempat seminar.

Di perjalanan kembali ke tempat tinggalnya, Walter mengajakku untuk ikut makan malam dengan dua orang temannya, Hiobs dan Carola. Awalnya aku menolak karena sungkan hehehe, tapi Walter balik bertanya kenapa nggak ikut aja. Akhirnya aku setuju karena Walter dan Maria sudah baik ke aku dan aku juga ingin mengalami(?) secara langsung bagaimana situasi saat mereka makan malam bersama.

Maria memasak Käsespätzle dan salad sayur. Walter dan aku menata meja makan. Buat aku yang bopung ini, persiapan makan malam mereka sangat wow. Dari Walter (dan Maria juga di hari lain) aku belajar menata piring, pisau, garpu, gelas, dan tisu. Walter memakai ibu jarinya untuk mengukur jarak piring dengan tepi meja.

Jam 5 sore Hiobs dan Carola datang. Mereka membawa kue keju blueberry buatan Carola. Walter dan Hiobs duduk berhadapan di sisi lebar meja. Aku duduk di sebelah Maria di sisi panjang meja. Carola duduk di dekat Hiobs dan berhadapan dengan aku. Seperti Walter dan Maria, Hiobs dan Carola sangat ramah. Mereka membicarakan banyak hal dan juga mengajak aku ngobrol. Setelah selesai makan, kami duduk bersantai di balkon sampai matahari terbenam (sekitar jam 10 malam). Disana Walter dan Hiobs membantuku memilih dan menuliskan rute kereta menuju tempat seminar. Walter, Maria, Hiobs, dan Carola sangat menikmati suasana sore di balkon. Awalnya aku juga menikmati suasananya, tapi lama-lama aku kedinginan. Saat itu sedang musim panas. Kata mereka harusnya suhu sudah lebih hangat, bisa sekitar 32 derajat. Entah kenapa saat itu lebih sering mendung dan suhu tertinggi juga masih sekitar 24 derajat.

Hari pertamaku di Berlin bersama Walter dan Maria berjalan dengan baik. Dalam beberapa jam bersama mereka aku mengenal lebih dekat beberapa hal yang berhubungan dengan Jerman yang selama ini hanya aku pelajari atau aku baca di buku saja.

🌷

Read More

Perkara Batu (Part 4)

December 24, 2023

Lily sedang menonton video RIIZE edisi Natal. Di video itu RIIZE bertukar kado yang berisi barang tidak berguna. Mereka bermain game 'I am ground, introduce yourself' untuk menentukan urutan memilih kado. Masing-masing member harus memperkenalkan diri dengan menggunakan nama yang berhubungan dengan Natal. Permainan dimulai dari Eunseok yang langsung berhenti karena blank. Dia belum memikirkan nama yang akan dia pakai. 

Setelah dia mendapat ide nama apa yang akan dia gunakan, permainan dimulai kembali...

RIIZE: 아이엠 그라운드 자기소개 시작! (I am ground, introduce yourself!)

Eunseok: 나는 루돌프! (I am Rudolph!)

© RIIZE

Lily yang sedang rebahan sambil bersandar di guling langsung membelakakkan mata.

"SEBENTAR SEBENTAR SEBENTAR," katanya sambil bangkit meninggalkan gulingnya.

RUDOLPH?!?!? BENERAN SEOK ELU RUDOLPH?!?!? GUE JUGA PERNAH PAKE NAMA RUDOLPH BUAT GUE SENDIRI ASLKSHDIEGFSDNHHJSGD!!!!!

Lily heboh sendiri di kamarnya yang panas tanpa AC.

Saat itu sebelum pandemi, Lily masih sering berjerawat di hidung dan membuat hidungnya memerah.

"Hidung lu kenapa kok merah?" seorang teman yang hubungannya dengan Lily memang seperti Tom & Jerry usil bertanya.

Lily yang sudah malas menanggapi kegabutan temannya itu nyeletuk, "Lu tau Rudolph? Itu gue."

Temannya tertawa menyebalkan dan memanggilnya Rudolph setiap kali hidung Lily memerah karena jerawat.

ASTAGA SONG EUNSEOK!!!!!!! KITA UDAH SAMA-SAMA RUDOLPH LHO INI!!! SEMESTA MENDUKUNG KITA BANGET LU TAU GAK SIH?!?!?!

Iyain aja cewek yang otaknya off karena cinta.

Kembali ke RIIZE bertukar kado. Permainan selesai dan dimenangkan oleh Wonbin. Wonbin boleh memilih kado terlebih dahulu, setelah itu disusul Sohee, Eunseok, Shotaro, Sungchan, dan Anton.

Saat giliran Eunseok memilih kado, Wonbin merekomendasikan kadonya untuk Eunseok. Sayangnya, Eunseok memilih kado yang lain :(

© RIIZE

Kenapa disayangkan? Karena kado dari Wonbin adalah pet stone yang cocok dengan si Batu, Eunseok.

Huhuhu Wonbin hatinya tulus, dia gak menjebak Eunseok T____T❤

© RIIZE

"Baby Eunseok~!" kata Eunseok dengan bahagia saat RIIZE menyambut kehadiran si batu di musim dingin dengan tawa dan suka cita :)

Sementara itu di sekitar garis ekuator, seseorang sedang mempertimbangkan apakah dia harus membeli pet stone atau tidak.

🌷

Read More

Perkara Batu (Part 3)

December 17, 2023

Saat itu musim panas di Dresden, Jerman. Lily memutuskan akan mengunjungi Albertinum, sebuah museum dan galeri seni di Kota Tua Dresden.

Lily masuk ke sebuah ruangan yang sangat luas di salah satu bagian Albertinum. Di tengah ruangan itu ada sofa-sofa besar berbentuk kotak dan berwarna abu-abu. Di seberangnya ada loket tiket dan sebuah toko yang menjual buku-buku tentang seni yang dipamerkan di Albertinum dan lukisan yang dicetak menjadi kartu pos.

Lily berjalan menuju loket. Petugas penjaga loket menyapanya dengan ramah.

"Selamat siang,"

"Selamat siang. Satu tiket, ya," kata Lily.

"Untuk pelajar?"

"Bukan, untuk umum," jawab Lily sambil tersenyum miris.

Harusnya gue bawa kartu mahasiswa gak sih biar dapat tiket harga pelajar? Lily berkata pada dirinya sendiri di dalam hati meskipun dia tau kalau kartu mahasiswa yang dia punya jelas-jelas tidak berlaku di Jerman dan usianya sama dengan usia keponakannya yang pertama yang sekarang sudah duduk di bangku sekolah menengah pertama.

"Tas bisa dititipkan di sebelah sana, ya," kata petugas itu sambil memberikan arahan ke Lily.

Lily berjalan pelan-pelan memasuki galeri seni. Karena itu pertama kalinya dia masuk ke galeri seni, dia sangat berhati-hati melangkah dan segera bertanya ketika dia melihat petugas yang sedang berjaga di ruangan pertama yang dia datangi.

Lily memulai petualangannya di galeri patung. Disana dia melihat banyak patung seperti patung torso, patung full body, patung abstrak, dan patung realis. Yang sangat menarik perhatian Lily disana adalah patung torso realis dengan detail yang luar biasa, seperti garis rambut dan lekukan pakaian yang diukir sangat rapi.

Lily menaiki tangga menuju galeri lukisan. Matanya seketika berbinar melihat lukisan-lukisan yang tertempel di dinding galeri. Galeri lukisan mengambil lebih banyak ruang daripada galeri patung. Lily tidak mau melewatkan satu ruangan pun. Dia memastikan telah mengunjungi semua ruangan dengan mencocokkannya dengan denah di selebaran yang dia bawa saat membeli tiket.

Lily merasa energinya terisi penuh setelah menikmati koleksi lukisan di Albertinum. Sebelum dia meninggalkan galeri itu, dia melihat-lihat kartu pos dan memutuskan membeli satu kartu pos bergambar lukisan karya Caspar David Friedrich yang berjudul Ausblick ins Elbtal (View of the Elbe Valley). Itu adalah lukisan yang berhasil mengambil hati Lily siang itu.

Lily belum beranjak pergi. Dia masih ingin melihat kartu pos yang lain. Sebuah kartu pos menarik perhatiannya. Tanpa pikir panjang dia segera mengambil kartu pos itu dan pergi menuju kasir. Di kartu pos itu tercetak lukisan yang dibuat oleh seniman bernama Sabine Moritz dengan judul Kleine Lilie (Little Lily).

---

Saat itu musim gugur di Tokyo, Jepang. Eunseok bersama Shotaro, Sungchan, Wonbin dan Sohee akan pergi ke Shimokitazawa, distrik bohemian di Tokyo. Agenda mereka siang itu adalah mengunjungi toko-toko  vintage dan menyusuri jalan sempit di Shimokitazawa.

Eunseok dan member RIIZE lainnya membuat vlog selama mereka berjalan-jalan. Eunseok sering berbicara menggunakan bahasa Jepang dan kadang dicampur dengan bahasa Korea. Beberapa kali dia juga berkomentar tentang apa yang dia lihat atau menanggapi Shotaro dengan menggunakan frase dalam bahasa Inggris.

Eunseok melihat sebuah rumah dan imajinasinya terbang ke seri manga Crayon Shin-Chan. Rumah yang dia lihat itu menurutnya seperti rumah keluarga Nohara yang kemudian ambruk dan akhirnya mereka harus pindah ke apartemen. Saat melihat sebuah sepeda yang terparkir di tepi jalan, dia langsung berkomentar itu adalah sepeda Misae, ibu Shin-Chan.

Eunseok bersama Shotaro, Sungchan, Wonbin dan Sohee kemudian masuk ke sebuah toko ritel untuk membeli snack. Di saat Sungchan sedang memilih snack, Shotaro dan Sohee sedang berdiskusi memilih es krim mana yang akan mereka beli, Eunseok menghampiri dengan tangan memegang bungkus makanan yang sudah dibuka dan salah satu isinya sudah ada di mulutnya. Ternyata dia sedang makan snack tangerine yang rasanya seperti tangerine. Itu yang dia katakan tentang rasa dari snack yang sedang dia makan.

Eunseok dan empat member lainnya melanjutkan petualangan mereka di Shimokitazawa. Mereka lalu sampai di sebuah jalan sempit dengan pemandangan yang estetik. Disana mereka berhenti untuk membuat video Reels dan mengambil foto masing-masing member dengan latar jalan sempit dan langit senja.

Eunseok saat itu memakai celana jeans biru, hoodie abu-abu dan jaket varsity hitam putih. Di bagian belakang jaketnya ada gambar bunga lili.

---

© RIIZE

© RIIZE

Little Lily, 1994
© Sabine Moritz

🌷

Read More

Perkara Batu (Part 2)

December 03, 2023

Lily melihat Eunseok dari kejauhan. Eunseok sedang diam membatu di sebuah taman. Dia memakai kaos hitam tanpa lengan dan topi hitam yang lidah topinya menghadap ke belakang. Dia melihat ke arah lain. Lily berjalan menuju jembatan yang mengarah ke tempat Eunseok berada.

© RIIZE

"Eh, itu ada Eunseok," kata seseorang di samping Lily. Orang ini adalah teman Lily, tapi dia tidak tahu pasti itu siapa.

"Sst! Diem! Nanti dia denger," respon Lily singkat. Dia dan orang di sampingnya berjalan semakin dekat ke arah Eunseok yang tetap diam membatu. Dia hanya berani mencuri pandang sebentar-sebentar ke Eunseok karena dia tidak mau kalau sampai Eunseok tahu dia sedang mengamatinya dari tadi.

Lily semakin dekat ke arah Eunseok yang sekarang memakai kaos putih dan topi putih yang lidah topinya menghadap ke belakang.

© RIIZE

Lily berada dekat dengan Eunseok. Dia menatap Eunseok. Saat Eunseok merasakan ada seseorang yang melihatnya dan hampir melihat ke arah Lily, Lily terbangun dari mimpinya.

🌷
Read More

Perkara Batu (Part 1)

November 30, 2023

Ini tentang cerita si Lily yang bucin Eunseok, salah satu member dari grup RIIZE yang kepribadiannya seperti batu.

© RIIZE

Awal mulanya Lily diberi tahu anak kamar sebelah kalau ada grup yang isinya brondong semua dan lagunya enak. Judulnya 'Memories'. Jadilah Lily mencari videonya di Youtube dan menonton dengan suka rela.

"Kok bagus di alam terbuka", komentar Lily.

"Udah berapa lama sih grup ini ada?" Lily bertanya ke dirinya sendiri ketika melihat di video itu ada tiga member yang bermain di tepi danau. Yang dua telanjang dada dan badannya sudah bagus.

Di pikiran Lily, kalau member sudah mulai pamer badan, berarti debutnya sudah lumayan lama. Ternyata Lily salah. RIIZE masih baru debut.

Anak kamar sebelah gencar mengirimi Lily foto-foto Wonbin dan Anton karena saat itu dia sedang terwonton-wonton. Lily terperosok jebakan Park Wonbin yang gantengnya sundul langit. Setiap hari kerjaan dua orang ini hanya membahas WonTon. Meskipun begitu Lily saat itu masih belum bisa mengenali Wonbin di MV Memories🙃 Setelah mendiamkannya beberapa hari dan menontonnya lagi, Lily akhirnya bisa mengenali Wonbin🥳

Dimanakah Eunseok yang sudah disebut sejak awal di postingan ini berada? Tentu saja Lily tidak tahu yang mana itu Eunseok. Dia tidak bisa membedakan Eunseok dan Sungchan🙂

"Eunseok sama Sungchan kek kembar," katanya ke anak kamar sebelah.

"Beda. Ya elu emang belum hafal sih," respon singkat anak kamar sebelah yang sama sekali tidak membantu Lily untuk membedakan Eunseok dan Sungchan.

Sampai suatu hari dia menonton video RIIZE memperkenalkan diri dalam bahasa Indonesia.

"Halo, saya 은석."

Kok kiyowo pas nyebutin namanya, kata Lily dalam hati saat perjalanan pulang di bus. Part ini dia ulang lagi dan lagi🙂

Itu adalah awal mula Lily memasuki jalan setapak berbatu dan mulai memperhatikan Eunseok di setiap video yang dia tonton. Lily kadang-kadang menyelipkan pembahasan tentang Eunseok ketika sedang membahas RIIZE dengan anak kamar sebelah, tetapi dia tidak pernah menyatakan dengan gamblang kalau Eunseok bisa mengancam posisi Wonbin. Dia memilih menyimpan semuanya sendiri dan membucin Eunseok dalam diam. Dia juga sebenarnya sedang berdebat dengan dirinya sendiri: Apakah Wonbin? Atau sebenernya malah Eunseok?

Sampai suatu ketika anak kamar sebelah tiba-tiba nyeletuk kalau dia sudah membaca tanda-tanda Lily mulai menjadi budak cinta Song Eunseok.

"Jangan meremehkan sense gue," kata anak kamar sebelah sok ketika Lily bertanya kenapa dia bisa tahu padahal selama ini Lily diam.

"Yaudah sih," kata Lily. Dia kemudian memilih membucin Eunseok dalam damai.

🌷

Read More

Persiapan(ku) ke Jerman: Mengurus Visa

June 28, 2023

© VIN JD from Pixabay


Aku mendapat kesempatan mengikuti seminar di Jerman dengan tema kebudayaan Jerman. Sebelum berangkat ke Jerman, semua pemegang paspor ijo gambar burung garuda harus mengurus visa dulu, termasuk diriku ini. Visa yang aku perlukan adalah visa bisnis. Aku mengurus Visa Schengen Jerman di VFS Global. Untuk membuat janji temu, aku harus membuat akun dulu di website VFS. Bisa ditebak, seperti saat mengurus ganti paspor, disini juga ada drama gara-gara aku salah memasukkkan password padahal belum ada 5 menit sejak verifikasi e-mail.

Setelah berhasil mengakses akun baruku, aku langsung mengecek persyaratan dokumen untuk visa yang aku butuhkan. Meskipun belum punya akun, persyaratan dokumen bisa dicek langsung di websitenya VFS. Aku menyiapkan dokumen yang diperlukan paralel juga dengan aku menunggu pasporku jadi. Nyicil supaya nggak berat dan menghindari drama yang nggak seharusnya terjadi.

Dokumen sudah lengkap. Selanjutnya membuat janji temu. Slot untuk bulan Juni sudah dibuka di akhir bulan Mei. Aku langsung memilih tanggal dan jam yang aman. Setelah itu aku membayar sesuai nominal yang tertera di website. Bayarnya online. Aku pakai BCA mobile. Drama terjadi lagi. Pembayaranku nggak berhasil karena debit online di BCA mobile-ku belum aktif. Aku harus mengulang lagi membuat janji temu dan harus menunggu sekitar 5 jam dulu baru bisa membuat janji baru.

Drama pembayaran selesai. Aku langsung mencetak bukti booking janji temu untuk dibawa saat datang ke kantor VFS. Di hari H aku datang 15 menit lebih awal. Petugas di pintu masuk mengecek janji temu yang aku buat. Aku disuruh menunggu dulu sampai tepat jam 1 siang dan dikasih form pengiriman paspor. Karena waktu itu aku nggak lihat ada ruang tunggu di luar kantor VFS, jadi aku menunggu di toilet sambil mengisi form pengiriman paspor dengan nama, nomor HP, dan alamat pengiriman. Jam 1 siang aku masuk ke ruangan petugas yang mengecek kelengkapan dokumen. Aku menunggu dipanggil sesuai nomor antrian. Di ruangan tersebut HP harus di-silent dan nggak boleh dipakai. Dilarang mengambil gambar apapun di ruangan.

Setelah dicek dan dokumen dinyatakan lengkap, aku harus membayar biaya pengiriman dokumen. Bayarnya tunai. Untunglah aku bawa tunai. Visaku gratis karena aku dapat undangan dari institusi pemerintah Jerman. Di sebelahku ada yang mengurus visa Schengen Belanda. Dia membayar biaya pembuatan visa dan biaya pengiriman dokumen secara tunai.

Setelah bayar, aku menunggu lagi sebentar untuk pengambilan sidik jari di Ruang Biometrik. Tempat menunggunya tepat di depan tempat petugas pengecekan dokumen. Ruang Biometrik ada di sebelah tempat pengecekan dokumen. Disekat tembok dan pintu geser aja.

Aku dipanggil masuk ke Ruang Biometrik dan dijelaskan prosedurnya. Saat pengambilan sidik jari, petugas memastikan di jariku nggak ada luka. Setelah selesai pengambilan sidik jari, aku bisa meninggalkan kantor VFS. Pelayanannya bagus dan petugasnya ramah.

Sat set sat set. Tiga hari setelah tanggal pengajuan, visaku jadi. Pasporku yang sudah ada tempelan visa sampai di kantor empat hari setelah visa diterbitkan.

Read More

Persiapan(ku) ke Jerman: Ganti Paspor

June 26, 2023

© Blake Guidry on Unsplash

Tahun ini aku mendapat kesempatan ke Jerman untuk mengikuti seminar dengan tema kebudayaan Jerman. Saat aku membaca e-mail dari bos di institut pusat di awal menuju pertengahan Mei, aku harusnya excited bukannya overthinking. Kenyataannya aku malah overthinking duluan karena pasporku sudah habis masa berlakunya sejak tiga tahun lalu dan jarak menerima e-mail tadi dengan jadwal seminarnya sudah termasuk mepet.

Aku mengurus paspor tahun 2015 di kantor imigrasi di kota asalku. Itu satu-satunya tempat yang aku tau. Sekarang aku anak rantau dan belum kenal kota domisiliku saat ini dengan baik. Pagi itu setelah membaca e-mail, aku langsung buka aplikasi yang dulu aku install untuk jaga-jaga kalau aku mau ganti paspor suatu hari nanti😊

Dan... yang terjadi adalah app-nya sudah nggak berfungsi lagi. MAMPUS.

Untuk mengurus paspor dan semacamnya sekarang sudah pakai aplikasi M-Paspor. Itu info yang aku dapat dari seorang teman sesaat setelah kepanikanku tadi. Pasang M-Paspor di HP juga drama lagi. Skip aja dramanya karena nggak penting.

Setelah aku punya akun di M-Paspor, aku bikin janji untuk mengurus ganti paspor. Pertama aku harus mengisi data dulu. Lumayan banyak yang harus diisi. Disini juga ada drama lagi karena aku nggak nyangka harus upload foto KK.

© Kaka

Selain itu aku juga harus upload foto halaman 2 paspor lama.

Mampus kan. Aku nggak bawa dua-duanya.

Aku bersyukur banget di tengah drama ini ada keluargaku yang siap membantu di saat-saat genting. Singkat cerita, orang rumah mengirimkan foto KK dan halaman 2 paspor lamaku.

Lanjut pilih tempat. Aku pilih amannya aja: mengurus lagi di kantor imigrasi satu-satunya di kota asalku. Sayangnya semua kuota sudah penuh di bulan Mei. Baru ada lagi di bulan Juni.

Ya mampus dong wak kalau gue baru ngurus bulan Juni.

Mau nggak mau aku harus pilih kantor imigrasi di kota tempat aku merantau sekarang. Aku bertanya ke temanku lagi, dimana dan apa saja yang perlu disiapkan untuk mengurus paspor di kota yang bukan kota asal pemohon. Aku kira harus ada surat keterangan domisili, ternyata nggak. Persyaratannya sesuai dengan yang tertera di aplikasi, nggak ribet. Yang ribet cuma gue aja dari tadi.

Tempat sudah ditentukan, kemudian pilih tanggal dan jam. Banyak banget kuota yang masih tersedia. Aku memilih tanggal 20-an Mei.

Tahap selanjutnya: bayar pembuatan paspor.  Aku bayar di ATM BCA dan langsung bisa. Sebelumnya aku dan seorang kolega mencoba bayar di ATM bank lain karena kami mengurusnya bersama. Sayangnya nggak berhasil entah kenapa aku lupa. Untuk pembayaran ini ada tenggat waktunya, kalau nggak salah 2 atau 3 jam. Kalau lewat dari waktu tersebut, permohonan otomatis kadaluarsa dan harus pilih ulang tanggal dan jamnya. Bisa di tanggal dan jam yang sama selama kuota masih tersedia.

Janji sudah dibuat, tinggal meluncur ke kantor imigrasi. Aku bikin janji jam 9 pagi dan sudah sampai disana jam setengah 9. Aku menunggu kolega sebentar. Eh ternyata kok lama, yaudah aku tinggal masuk.

Aku menunggu sambil mengisi formulir pengajuan ganti paspor. Harus tanda tangan di atas materai 10.000. Materainya aku beli di koperasi(?) di belakang kantin dekat parkiran motor dan mobil. Sekalian aku beli materai untuk kolegaku juga. Bayarnya tunai. Setelah itu, aku mengantri di loket penyerahan dokumen. Petugas mengecek dokumen dan memberi nomor antrian kalau dokumennya sudah sesuai persyaratan. Antrian sesuai jam sepertinya nggak berlaku ya ges ya. Sistemnya lebih ke siapa yang datang, isi formulir, dan menyerahkan dokumen lebih awal, dia yang dapat nomor antrian duluan. Buat gue sih ini bukan masalah ya wak, YANG PENTING GUE SEGERA DAPAT PASPOR BARU.

Nomor antrianku dipanggil. Tahap selanjutnya seperti yang sudah-sudah adalah wawancara. Ini sih yang bikin aku menunda untuk ganti paspor 3 tahun lalu. Ditanya kerja dimana dan keperluannya apa. Saat itu statusku di institut tempat aku kerja sekarang masih anak magang. Kan repot. Sekarang aku sudah resmi menjadi karyawan disana dan punya alasan jelas untuk pergi ke Jerman. Sip.

Wawancara sudah, ambil sidik jari dan foto juga sudah. Tinggal menunggu paspor jadi selama 4 hari kerja. Aku kembali ke kantor dengan membawa lembar bukti bayar yang ada barcode untuk dipakai mengambil paspor nantinya.

Beberapa hari berlalu...

PASPORKU AKHIRNYA JADI. ALHAMDULILLAH.

Lanjut ke tahap selanjutnya: mengurus Visa Schengen Jerman.

Read More

Kembali ke Zona Nyaman di Saat yang Tepat :)

June 25, 2023

Setelah lebih dari dua tahun terguncang secara mental serta tenaga dan pikiran terkuras, akhirnya aku bisa kembali lagi ke zona nyamanku: nonton pertandingan badminton di depan layar laptop. Banyak banget nama pemain yang asing buatku karena kelamaan nggak nyimak. Tapi yaudah sih, lama-lama juga familiar sendiri.

Sebelum vakum yang nggak direncanakan itu, aku sempat nonton pertandingan-pertandingan ganda putri dan ganda campuran. Favoritku di ganda putri waktu itu Yuki Fukushima/Sayaka Hirota dan Kim So Young/Kong Hee Yong, di ganda campuran random aja sih sebenernya setelah Owi/Butet berpisah karena Liliyana Natsir gantung raket. Aku hampir nggak nyimak sama sekali tunggal putra atau pun ganda putra sejak Taufik Hidayat meninggalkan diriku pensiun. Sempat melirik Takeshi Kamura di ganda putra, tapi cuma seumur jagung hehe. Setelahnya ada satu pemain yang lucu. Tidak lain dan tidak bukan ialah Loh Kean Yew di tunggal putra. Meskipun full senyum dan uwu, Keanu juga sayangnya nggak bisa menggantikan posisi Taufik Hidayat di hati akyu. Monmaap ini bahasanya cringe karena hamba memang cringe.

Agak lama setelah itu muncul lagi nama baru: Feng Yan Zhe, pasangan Huang Dong Ping di ganda campuran yang menggantikan Wang Yilyu. Berondong kelahiran 2001 ini cakep banget sih emang. Yan Zhe sering tertangkap kamera diomeli Dong Ping kalau dia melakukan kesalahan di lapangan. Kasian tapi lucu wkwkwkwkwk. Yang sabar ya Yance, itu demi kebaikanmu juga. *sok akrab*

Selain Yan Zhe masih ada satu lagi. Si kalem Kim Won Ho. Awal bulan ini aku sempat nonton Wonho (yang berpasangan dengan Jeong Na Eun) di Final Thailand Open. Disana mereka berhasil menjadi juara. Saat di podium Wonho yang vibe-nya soft boy terlihat semakin soft(?) dan sangat memancarkan aura anak baik-baik yang harus banget dijadikan kesayangan sejuta umat.

©  BWF TV

Di lapangan Wonho sering maju di depan net dan Naeun berada di belakang. Aku pun bertanya-tanya kenapa Wonho sering banget berada di depan net. Ya memang sih pemain laki-laki di ganda campuran bisa maju dan main di depan net, tapi nggak sesering Wonho. Ternyata Wonho percaya dengan kemampuan Naeun meng-cover lapangan belakang. Bhaiq. Singkat saja pembahasan mengenai gaya permainan pasangan gemas ini karena sebenarnya maksud dan tujuan dari postingan ini adalah saya ingin menyampaikan bahwa saya sudah menjadi budak cinta Kim Won Ho. Semoga perbucinan ini tetap berada di tahap yang sehat dan wajar. Sekian. Salam bucin.

Read More